DOSA BESAR ITU BERNAMA PROVOKASI

Duel liar antara pembalap Movistar Yamaha Valentino Rossi dengan pembalap Repsol Honda Marc Marquez di gelaran GP Sepang Malaysia pada Minggu 25 Oktober 2015 kemarin disinyalir karena adanya aksi provokasi dari Marc Marquez. Terlepas benar atau tidaknya tuduhan tersebut (hanya Marquez dan Tuhan yang tahu), faktanya Valentino Rossi menganggapnya sebagai sebuah kebenaran sehingga kemudian melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga dan mencoreng nama besarnya sebagai seorang legenda Moto GP. 

Sebetulnya kejadian serupa dan melibatkan sosok bintang besar bukan sekali itu saja terjadi. Masih segar dalam ingatan bagaimana seorang Zinedine Zidane pemain fenomenal yang sarat prestasi dan pengalaman bahkan pernah meraih Ballon d'Or tahun 1998 harus rela keluar lapangan karena di kartu merah wasit usai menanduk bek Timnas Italia Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006 yang dimenangkan oleh Italia, tindakannya yang diluar kontrol tersebut dikatakan karena terprovokasi oleh ulah Marco Materazzi.
Dua kejadian itu sedikit dari sekian banyak dosa Provokasi. Banyak peristiwa kerusuhan di Indonesia yang disulut oleh aksi Provokasi, sebut saja peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang menjadi gerbang era reformasi, kerusuhan di Ambon, dan yang terbaru kerusuhan jelang laga final Piala Presiden 2015 di GBK. 

Kalau ditelusuri dari sejarahnya, provokasi ini sebenarnya bukan jenis dosa baru melainkan bisa dibilang dosa kedua yang dilakukan Iblis pasca aksi pembangkangannya terhadap perintah Tuhan yaitu tidak mau hormat terhadap Adam karena kesombongannya yang merasa lebih mulia dari Adam. Setelah terusir dari syurga maka iblis berniat balas dendam untuk mengeluarkan Adam dari syurga. Aksi tipu daya dan provokasi dilakukannya agar Adam mau memakan buah khuldi, buah yang dilarang untuk dimakan. Setelah berkali-kali aksi tersebut dilakukan Adam pun terpancing hingga kemudian memakan buah tersebut dan terusirlah dari Syurga.

Pengertian Provokasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-Daring adalah “perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan”. Sedangkan terprovokasi adalah terpancing atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan negatif, misalnya perusakan.
Sebegitu dahsyatnya efek kejut dari aksi provokasi hingga mampu menghilangkan kesadaran sang obyek provokasi, lalu melakukan reaksi yang tidak lagi terkontrol dan cenderung merusak. Persoalannya adalah lebih gampang menghakimi orang yang terprovokasi yang nyata-nyata melakukan reaksi dengan serampangan karena emosi yang begitu membuncah, sedangkan provokatornya (yang melakukan provokasi) seringkali malah tidak tersentuh atau bahkan dinyatakan tidak bersalah karena tidak terbukti melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Hal ini karena aksi provokasi bentuknya terselubung dan lebih sering sudah dirancang sebelum dilakukan sehingga tidak mudah untuk dibuktikan.

Karena itulah tidak salah bila menempatkan Provokasi sebagai dosa besar karena aksi tersebut menyebabkan orang lain melakukan dosa dan kesalahan fatal. Dan sepantasnya apabila terbukti pelakunya dihukum 2 kali lipat lebih berat dari hukuman si terprovokasi sehingga memberikan efek jera bagi si pelaku maupun yang berniat melakukannya.

Oleh: Ahmad Munir

TIGA TAHAPAN MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI


Melihat MC, Presenter di TV atau bahkan teman kita sendiri yang begitu santainya berbicara dan menyampaikan pendapatnya di depan forum atau publik tentu menimbulkan rasa cemburu bagi kita yang belum bisa melakukannya. Tidak perlu berkecil hati dulu apalagi sampai bersedih karena sebenarnya kita juga bisa melakukannya asal kita memiliki KEMAUAN yang kuat untuk melakukannya. "mau sih mau tapi gak berani ngelakuinnya" mungkin kata-kata itu yang ada dipikiran anda. Tenang! Saya dulu juga mengalaminya kok, makanya disini saya mau sharing masalah ini berdasarkan pengalaman pribadi. Dulu saya juga mengalami apa yang anda alami ini "Krisis PD", jangankan berbicara di depan forum, mau nanya ketika tidak mengerti pelajaran di kelas saja sama sekali tidak berani apalagi ber-opini. Hal ini berjalan sampai saya kuliah semester II. Namun kesadaran akan kerugian yang akan saya dapatkan apabila terus-terusan tidak percaya diri, maka saya bulatkan tekad untuk melawan dan menghilangkannya. Masuk semester tiga saya melakukan upaya-upaya untuk memupuk rasa percaya diri, salah satunya dengan jurus 3 tahapan berikut ini:

       (Video Cara Melatih Rasa Percaya Diri)

1. Berorganisasi
Tahapan pertama untuk membangun rasa percaya diri adalah dengan memperbanyak kemungkinan kita bisa bertemu banyak orang, salahsatu langkahnya adalah berorganisasi. Dengan aktif mengikuti sebuah organisasi kita tidak hanya bisa bertemu banyak orang, akan tetapi juga bisa memberikan ruang bagi kita melatih berbicara di depan forum atau publik. Dalam sebuah organisasi banyak kegiatan-kegiatan yang memungkinkan kita untuk latihan tampil dan berbicara di depan umum, mulai dari yang berskala kecil hingga acara besar seperti sarasehan ataupun seminar.

2. Berani bicara
Setelah kita mengikuti sebuah organisasi, langkah berikutnya adalah memupuk keberanian untuk berbicara di depan forum atau publik dengan cara berani bicara. Loh kok bisa begitu? Iya, karena sejatinya rasa takut itu bisa kita hilangkan dengan cara melakukan hal-hal yang ditakutkan itu sendiri. Kalau kita takut berbicara di depan forum maka itu yang harus kita lakukan. Sebagai awal tidak perlu berbicara panjang lebar, secukupnya saja, kalau perlu kita tuliskan dulu hal-hal yang ingin kita sampaikan. Dalam proses ini bukan konten pembicaraan yang dikedepankan, melainkan keberanian untuk berbicara yang menjadi penting. Tidak soal kita bicaranya belepotan dan diketawain audien karena memang kita masih dalam proses latihan. Kalau kita berani mencoba untuk pertama kalinya, maka akan ada percobaan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Karena percayalah setiap proses percobaan itu memiliki sifat adiktif. Proses melawan rasa takut itu akan memacu adrenalin dan meninggalkan sensasi setelahnya sehingga kita selalu ingin mencobanya lagi, lagi dan lagi sampai akhirnya tanpa terasa kita sudah terbiasa dan tanpa beban lagi.

3. Upgrade dan update wawasan
Setelah kita memiliki keberanian berbicara di depan forum atau publik, maka langkah selanjutnya adalah kita wajib membekali diri kita dengan wawasan yang luas agar kita tidak kehabisan bahan dan referensi dalam berbicara, sehingga pembicaraan kita lebih berisi dan bermanfaat. Selain itu agar cara berbicara kita sistematis, lugas dan menarik maka kita juga wajib membekali diri dengan wawasan yang berkaitan dengan teori-teori public speaking, sehingga lawan bicara atau audiens tertarik dan tidak bosan mendengarkan  kita berbicara.

Ketiga tahapan tersebut tidak harus berurutan, silahkan disesuaikan dengan kenyamanan anda untuk melakukannya. Namun yang di rekomendasikan adalah dengan melakukannya secara bersamaan sehingga prosesnya lebih cepat. Diluar ketiga tahapan tersebut dan sangat menentukan keberhasilan adalah konsistensi dan kesabaran. So keep move on !

Semoga bermanfaat...

By: Ahmad Munir